Seorang pengusaha besar duduk gelisah di ruang tamu direktur utama sebuah bank badan usaha milik negara. Ia sudah duduk 4 jam 30 menit, tetapi sang dirut bank belum juga menerimanya. Padahal, ia ditemani seorang pejabat negara yang berpengaruh.
Tatkala usahawan ini sudah berada di puncak kegelisahan, datanglah sekretaris dirut itu menyampaikan bahwa atasannya sudah keluar kantor karena mendadak dipanggil seorang menteri. Dengan langkah gontai, pebisnis itu kembali ke kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Pejabat berpengaruh itu menyatakan, ia sebetulnya sudah menggunakan namanya sebagai tameng, berikut ”aspek pertemanan” dengan dirut tersebut. Akan tetapi, upayanya membantu usahawan itu mendapat kredit baru gagal.
Pejabat negara itu mengakui, sebetulnya ia setengah hati membantu usahawan besar tersebut. Namun, kalau akhirnya ia lakukan juga, itu semata karena letih dibujuk-bujuk. Faktor lain, usahawan tersebut temannya semasa di sekolah dasar. Terus terang ia akui, ia bisa memahami mengapa dirut itu itu menghindar bertemu. Pertama karena utang pengusaha besar tersebut di bank BUMN itu sudah Rp 1 triliun. Kalau masih ditambah utang baru, bakal sangat merepotkan. Apabila kelak timbul masalah hukum, dirut itu termasuk yang akan diperiksa penyidik. Kedua, ia ingin mengeluarkan temannya dari kesulitan sekaligus mengarahkannya menjadi usahawan ”yang benar dan lurus”.
Kasus ini merupakan kasus ”biasa” dan kerap terjadi. Banyak debitor berusaha menghindar membayar utang, termasuk mengelak membayar pajak secara penuh. Terjadilah upaya menyuap aparat, membuat laporan keuangan tidak benar, dan sebagainya. Bagi usahawan golongan sesat, sukses tidak bayar pajak dan utang adalah kebanggaan besar.
Sebaliknya, bagi usahawan golongan putih, bayar utang adalah bagian dari martabat, reputasi, integritas, dan menjaga kesehatan perusahaan. Tidak bayar utang dan gagal bayar utang hanya membuat aib. Si pengusaha tidak lagi merasa gagah di depan publik. Ke kantor, malu kepada staf. Ke ruang publik, malu bertemu teman. Ke bank, takut ditagih dan khawatir terjadi penyitaan aset. Semua jadi serba salah.
Usahawan yang bersedia membayar utang umumnya dari generasi pertama dan generasi kedua yang moralnya terjaga baik karena masih menggenggam spirit saudagar tulen: membayar utang sama dengan menjaga harga diri. Tidak bayar utang sama dengan tidak memiliki harga diri.
F Widjaja, salah seorang usahawan besar di Tanah Air, menyebutkan, membayar utang merupakan salah satu elemen paling penting dalam kultur berbisnis. Membayar utang, betapapun sulitnya, harus dilakukan. Jika dipandang perlu, jual seluruh aset perusahaan untuk membayar utang.
Dalam bisnis, kata Widjaja, seseorang tidak akan dipercaya pebisinis lain kalau enggan membayar utang atau gemar membuka cek kosong. Padahal, kita tahu, reputasi dan integritas tinggi adalah harga mati dalam dunia bisnis. Lagi pula, lanjutnya, mengapa ingin menjadi pebisnis yang tanggung. Mengapa tega merusak diri sendiri. Sebab, meski ”hanya” ngemplang utang dua-tiga kali, lalu kehilangan nama baik. Reputasi bisnis menjadi hancur. Ini sungguh suatu perbuatan yang tidak pantas. Harga yang harus dibayar dari ketidakjujuran ini terlampau mahal dan menakutkan.
Pengembang terkemuka Indonesia, Ciputra, menyampaikan hal yang sama. Menurut usahawan ini, membayar utang merupakan cermin tingginya martabat dan moral. Begitu kita bermain-main dengan urusan moral ini, bukan saja nama baik hancur, melainkan juga mitra bisnis enggan berhubungan dengan kita. Pada ujungnya, kita bahkan akan terkucil dan termarjinalkan.
(Sumber)
Ingin ngobrol sama Provokator Pengusaha? Follow @KataPengusaha
Atau share artikelnya :
Tweet
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Desember 2011
Kamis, 22 Desember 2011
Tentukan Harga Terbaik Anda!
Kemarin, dari posting blog 10 faktor kegagalan bisnis melalui akun Twitter @KataPengusaha ada yang mengeluhkan bahwa usahanya terkendala pada faktor nomor 6, yaitu tidak punya kebijakan harga yang baik. Lalu, bagaimana sebenarnya menentukan harga untuk produk/jasa yang baik sehingga dapat diterima oleh konsumen target?
Langkah pertama dalam menyusun strategi harga adalah dengan menentukan terlebih dahulu segmentasi pasar bisnis Anda. Hal ini terutama agar harga yang kita tentukan nanti sesuai dengan segmennya. Misalkan, segmentasi pasar Anda adlah menengah ke atas, yang tidak menjadikan harga sebagai faktor penentu utama pembeliannya. Maka, Anda bisa berkonsentrasi kepada proses dan kualitas produk/jasa yang Anda tawarkan agar sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Sebaliknya, apabila bisnis Anda diarahkan untuk segmentasi pasar menengah ke bawah yang sensitif terhadap harga maka di sini Anda harus benar-benar berhati-hati. Karena kebanyakan pengusaha pemula terjebak dalam strategi harganya sendiri.
Seperti yang disampaikan salah seorang followers @KataPengusaha : "kan di mana ada murah di sana pasti ramai". Saya ingatkan, boleh saja kita berpendapat demikian dan memberikan harga yang murah untuk segmentasi menengah ke bawah, tetapi hal tersebut harus diimbangi dengan jumlah penjualan yang besar. Saya ambil contoh, semisal Anda ingin menjual baju dengan harga murah Rp. 50.000, mungkin dengan harga jual tersebut Anda sudah mempunyai keuntungan Rp.15.000. Tapi, apabila ingin mendapatkan profit kotor total sebulan Rp. 15 juta, maka Anda harus menjual 1000 pcs baju! Jumlah yang sangat besar untuk nilai keuntungan yang bisa dikatakan kecil. Dan itu juga belum dihitung biaya pemasaran atau pegawai dan lain-lain.
Nah, hitungan strategis seperti ini lah yang sering dilupakan banyak orang. Sehingga, akhirnya mereka terjebak dalam perang harga yang tidak berkesudahan. Kalau terus demikian, bisa dipastikan lama-lama usaha Anda terpaksa harus gulung tikar karena tidak mampu untuk menanggung biaya operasional yang ada.
Lalu, apa yang harus Anda lakukan?
Fokuslah pada kualitas dan nilai dari produk/jasa Anda.
Apa itu kualitas produk/jasa? Apa bedanya dengan nilai produk/jasa?
Kualitas adalah definisi terukur dari produk/jasa yang dihasilkan. Contoh : berat, kandungan air dalam makanan, umur/masa simpan produk dan termasuk jenis bahan produksinya. Sedangkan nilai produk/jasa adalah persepsi konsumen terhadap manfaat yang mereka rasakan apabila membeli produk/jasa tersebut.
Nah,coba definisikan kembali kualitas dan nilai dari produk/jasa Anda, dengan demikian Anda mempunyai senjata saat menawarkan produk/jasa tersebut dengan menjelaskan secara rinci apa yang menjadi keunggulan dan manfaat dari produk/jasa tersebut.
Terakhir, sekali lagi saya ingatkan : jangan terjebak dalam perang harga!
Harga terbaik bukan harga termurah yang bisa kita tawarkan tetapi sebanding dengan kualitas dan nilai dari produk/jasa yang kita tawarkan. Jika dengan terpaksa kita harus memasuki persaingan harga, jangan paksakan untuk menekan harga ke titik terendah karena yang ada bukan untung yang didapat,tapi buntung! Lebih baik untuk mereview kembali kualitas dan nilai produk/jasa Anda, lalu tingkatkan kembali kualitas dan pelayanannya sehingga Anda bisa Anda naikkan kembali. Atau bila perlu lakukan re-segmentasi sesuai dengan rencana bisnis Anda ke depan.
Nah, mumpung sekarang lagi akhir tahun, Anda bisa sekalian masukan strategi harga ini ke dalam evaluasi bisnis tahun ini dan semoga tahun 2012 menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua :)
Ingin ngobrol sama Provokator Pengusaha? Follow @KataPengusaha
Atau share artikelnya :
Tweet
Langkah pertama dalam menyusun strategi harga adalah dengan menentukan terlebih dahulu segmentasi pasar bisnis Anda. Hal ini terutama agar harga yang kita tentukan nanti sesuai dengan segmennya. Misalkan, segmentasi pasar Anda adlah menengah ke atas, yang tidak menjadikan harga sebagai faktor penentu utama pembeliannya. Maka, Anda bisa berkonsentrasi kepada proses dan kualitas produk/jasa yang Anda tawarkan agar sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Sebaliknya, apabila bisnis Anda diarahkan untuk segmentasi pasar menengah ke bawah yang sensitif terhadap harga maka di sini Anda harus benar-benar berhati-hati. Karena kebanyakan pengusaha pemula terjebak dalam strategi harganya sendiri.
Seperti yang disampaikan salah seorang followers @KataPengusaha : "kan di mana ada murah di sana pasti ramai". Saya ingatkan, boleh saja kita berpendapat demikian dan memberikan harga yang murah untuk segmentasi menengah ke bawah, tetapi hal tersebut harus diimbangi dengan jumlah penjualan yang besar. Saya ambil contoh, semisal Anda ingin menjual baju dengan harga murah Rp. 50.000, mungkin dengan harga jual tersebut Anda sudah mempunyai keuntungan Rp.15.000. Tapi, apabila ingin mendapatkan profit kotor total sebulan Rp. 15 juta, maka Anda harus menjual 1000 pcs baju! Jumlah yang sangat besar untuk nilai keuntungan yang bisa dikatakan kecil. Dan itu juga belum dihitung biaya pemasaran atau pegawai dan lain-lain.
Nah, hitungan strategis seperti ini lah yang sering dilupakan banyak orang. Sehingga, akhirnya mereka terjebak dalam perang harga yang tidak berkesudahan. Kalau terus demikian, bisa dipastikan lama-lama usaha Anda terpaksa harus gulung tikar karena tidak mampu untuk menanggung biaya operasional yang ada.
Lalu, apa yang harus Anda lakukan?
Fokuslah pada kualitas dan nilai dari produk/jasa Anda.
Apa itu kualitas produk/jasa? Apa bedanya dengan nilai produk/jasa?
Kualitas adalah definisi terukur dari produk/jasa yang dihasilkan. Contoh : berat, kandungan air dalam makanan, umur/masa simpan produk dan termasuk jenis bahan produksinya. Sedangkan nilai produk/jasa adalah persepsi konsumen terhadap manfaat yang mereka rasakan apabila membeli produk/jasa tersebut.
Nah,coba definisikan kembali kualitas dan nilai dari produk/jasa Anda, dengan demikian Anda mempunyai senjata saat menawarkan produk/jasa tersebut dengan menjelaskan secara rinci apa yang menjadi keunggulan dan manfaat dari produk/jasa tersebut.
Terakhir, sekali lagi saya ingatkan : jangan terjebak dalam perang harga!
Harga terbaik bukan harga termurah yang bisa kita tawarkan tetapi sebanding dengan kualitas dan nilai dari produk/jasa yang kita tawarkan. Jika dengan terpaksa kita harus memasuki persaingan harga, jangan paksakan untuk menekan harga ke titik terendah karena yang ada bukan untung yang didapat,tapi buntung! Lebih baik untuk mereview kembali kualitas dan nilai produk/jasa Anda, lalu tingkatkan kembali kualitas dan pelayanannya sehingga Anda bisa Anda naikkan kembali. Atau bila perlu lakukan re-segmentasi sesuai dengan rencana bisnis Anda ke depan.
Nah, mumpung sekarang lagi akhir tahun, Anda bisa sekalian masukan strategi harga ini ke dalam evaluasi bisnis tahun ini dan semoga tahun 2012 menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua :)
Ingin ngobrol sama Provokator Pengusaha? Follow @KataPengusaha
Atau share artikelnya :
Tweet
Minggu, 13 November 2011
Keuntungan Jangan Dimakan Habis!
Sekali waktu ada yang bercerita kepada saya mengenai usaha keluarganya yang sudah berjalan hampir 20 tahun tetapi berkembang sangat lambat, malah bisa dikatakan tidak ada perkembangan sama sekali. Saya sendiri ketika kecil suka membeli sebuah jajanan tradisional di depan gang rumah dan sampai saat ini si penjual dagangan tersebut masih berjualan di tempat yang sama, dengan dagangan yang sama, gerobak yang sama, cita rasa yang sama dan hanya kulit serta raut wajah pedagangnya yang nampak semakin tua.
Saya kira pemandangan serupa banyak Anda jumpai dikehidupan nyata. Betapa banyak pengusaha kecil yang tergilas roda waktu tanpa adanya perkembangan usaha yang real. Kalau ditanya apa penyebabnya, bisa jadi banyak hal. Dimulai dari kurang pembinaan hingga terlena dengan keberhasilan yang sudah dicapai. Tetapi, sebuah hasil riset juga menyatakan bahwa sebanyak 82% bisnis hancur sebenarnya akibat manajemen arus kas yang buruk. Artinya, banyak pengusaha yang kurang memerhatikan arus kas dan mengelolanya untuk pengembangan usaha.
Dalam sebuah usaha, idealnya kita jangan menggunakan seluruh laba yang diperoleh untuk dikonsumsi secara pribadi. Tetapi, perlu disisihkan untuk pengembangan usaha dan investasi pada aset yang akan aktif memberikan kita passive income. Jangan biarkan terlalu banyak harta pasif ada dalam kas Anda. Selain untuk menyimpan dana apabila sewaktu-waktu diperlukan, berinvestasi juga merupakan langkah awal untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak dari aset aktif.
Safir Senduk, seorang ahli keuangan menyarankan agar pengusaha dapat disiplin mengelola arus kas, terutama dalam membedakan antara harta konsumsi dan harta investasi. Sebaiknya, prioritaskan 30-50% dari keuntungan terlebih dahulu digunakan untuk pengembalian modal awal. Meskipun modal diperoleh dari tabungan sendiri, penyisihan laba itu tetap wajib hukumnya! Lalu, 10-20% dari laba digunakan untuk penyusutan alat dan 10-20% untuk pengembangan usaha, sisanya baru bisa digunakan untuk konsumsi pribadi.
Ada banyak rahasia kesuksesan dalam sebuah bisnis, tetapi mengenai pengelolaan arus kas ini seringkali dilupakan. Ingatlah, persaingan di luar terus berjalan dan semakin ketat. Kalau Anda tidak mempersiapkan rencana pengelolaan arus kas yang baik untuk perkembangan usaha dan menghadapi persaingan, maka dapat dipastikan bisnis Anda akan mati tergilas waktu dan tidak akan pernah berkembang.
Meski profit bukan segalanya,tetapi berbagi profit yg besar dengan bersedekah adalah hal terbaik dalam sbuah bisnis. Maka dengan demikian, meningkatkan profit dan mengembangkan usaha adalah kewajiban bagi setiap pengusaha agar bisa bersedekah lebih banyak. Sehingga, keuntungan juga akan bertambah banyak lagi.
Ingin ngobrol sama Provokator Pengusaha? Follow @KataPengusaha
Atau share artikelnya :
Tweet
Saya kira pemandangan serupa banyak Anda jumpai dikehidupan nyata. Betapa banyak pengusaha kecil yang tergilas roda waktu tanpa adanya perkembangan usaha yang real. Kalau ditanya apa penyebabnya, bisa jadi banyak hal. Dimulai dari kurang pembinaan hingga terlena dengan keberhasilan yang sudah dicapai. Tetapi, sebuah hasil riset juga menyatakan bahwa sebanyak 82% bisnis hancur sebenarnya akibat manajemen arus kas yang buruk. Artinya, banyak pengusaha yang kurang memerhatikan arus kas dan mengelolanya untuk pengembangan usaha.
Dalam sebuah usaha, idealnya kita jangan menggunakan seluruh laba yang diperoleh untuk dikonsumsi secara pribadi. Tetapi, perlu disisihkan untuk pengembangan usaha dan investasi pada aset yang akan aktif memberikan kita passive income. Jangan biarkan terlalu banyak harta pasif ada dalam kas Anda. Selain untuk menyimpan dana apabila sewaktu-waktu diperlukan, berinvestasi juga merupakan langkah awal untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak dari aset aktif.
Safir Senduk, seorang ahli keuangan menyarankan agar pengusaha dapat disiplin mengelola arus kas, terutama dalam membedakan antara harta konsumsi dan harta investasi. Sebaiknya, prioritaskan 30-50% dari keuntungan terlebih dahulu digunakan untuk pengembalian modal awal. Meskipun modal diperoleh dari tabungan sendiri, penyisihan laba itu tetap wajib hukumnya! Lalu, 10-20% dari laba digunakan untuk penyusutan alat dan 10-20% untuk pengembangan usaha, sisanya baru bisa digunakan untuk konsumsi pribadi.
Ada banyak rahasia kesuksesan dalam sebuah bisnis, tetapi mengenai pengelolaan arus kas ini seringkali dilupakan. Ingatlah, persaingan di luar terus berjalan dan semakin ketat. Kalau Anda tidak mempersiapkan rencana pengelolaan arus kas yang baik untuk perkembangan usaha dan menghadapi persaingan, maka dapat dipastikan bisnis Anda akan mati tergilas waktu dan tidak akan pernah berkembang.
Meski profit bukan segalanya,tetapi berbagi profit yg besar dengan bersedekah adalah hal terbaik dalam sbuah bisnis. Maka dengan demikian, meningkatkan profit dan mengembangkan usaha adalah kewajiban bagi setiap pengusaha agar bisa bersedekah lebih banyak. Sehingga, keuntungan juga akan bertambah banyak lagi.
Ingin ngobrol sama Provokator Pengusaha? Follow @KataPengusaha
Atau share artikelnya :
Tweet
Langganan:
Postingan (Atom)


